Sepilihan Sajak-sajak Novy Noorhayati Syahfida
Saturday, April 03, 2004
Novy Noorhayati Syahfida, atau lebih dikenal dengan nama Syahfida. Lahir di Jakarta, 12 November 1976. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis sajak sejak usia 11 tahun. Beberapa sajak masa kanak-kanaknya tersimpan di Majalah Anak-anak, sedangkan sajak-sajaknya yang belakangan pernah dipublikasikan di beberapa media massa, Dian Sastro for President! (AKY-Bentang, 2002), Dian Sastro for President! #2: Reloaded (AKY, 2003), Jurnal Puisi (2003), buletin sastra, situs sastra, dan juga beberapa milis sastra di yahoogroups. Sajak-sajaknya juga dapat dinikmati di situs pribadi yaitu: http://www.syahfida.blogspot.com, http://www.aku_ini_senja.blogspot.com dan http://www.nyanyian-hujan.blogspot.com. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta. E-mail: syahfida@yahoo.com.
Berikut ini adalah beberapa sajak pilihan yang ditulis sejak tahun 1993 sampai dengan sekarang.
LUQMAN DAN TITAH SUCI
Anakku, meski sekecil biji sawi
Amalmu dibalik batu sembunyi
Diantara langit dan bumi ini
Balasan Allah datangnya pasti
Sungguh Allah Maha Halus meliputi
Lagi Maha Mengetahui
Anakku, tegakkanlah shalat
Dan titahlah beramal ma’ruf
Bersabarlah menanggung musibah
Sikap batin yang demikian
Titah suci yang diagungkan
(Pada sisi pandangan Tuhan)
jangan palingkan muka dari manusia
jangan berjalan pongah di atas dunia
Allah amat tidak menyukai
Para penyombong pembangga diri
Ayunkan langkah bersahaja
Lunakkan tutur kala menyapa
Seburuk-buruk ingar
Ingar-bingar suara himar
Kramat, 13 Mei 1993
ATAS NAMA CINTA
atas nama cinta kupersembahkan raga
atas nama cinta kurangkum bunga
atas nama cinta kupetikkan nada
atas nama cinta kubelajar rela
atas nama cinta kukuburkan cintamu
hari ini…
(akhir perjalananku)
Jakarta, 19 Maret 1997
B I A R
(happy b’day, rief!)
biar kutuliskan syair ini
agar aku tak lagi menangis
menatap kepergianmu
biar kubalut luka ini
bersama rasa cintaku
seiring hilangnya waktu
biar, biar semuanya berlalu
hingga tiba saatnya
aku harus berdiri kembali
menyambut sang pagi
Jakarta, 2 April 1997
AKU INGIN
aku ingin seperti karang
berdiri di tepi pantai
diterjang ombak, ditentang badai
aku ingin seperti samudera
yang bisa menyembunyikan ikan-ikan di dasarnya
yang bisa menenggelamkan kerang-kerang di kakinya
yang bisa melenyapkan buih-buih di sisinya
aku ingin, aku ingin memaafkanmu
seperti karang dengan pantainya
seperti samudera dengan ikan, kerang dan buihnya
tapi aku tak bisa…
Bandung, 23 Mei 1997
PUKUL EMPAT SORE
aku mengingatmu dalam diam
dalam setiap lekuk tubuhmu
dalam desahmu
gelak tawamu
dan detak jantungmu
kunikmati semua
dalam diamku
Guntur Sari Wetan, 13 Juli 1994
D I R I M U
masih selalu saja kuukir namamu
ketika senja turun perlahan
masih selalu kulukis bayangmu
ke dalam kanvas biruku
masih dan masih saja dirimu
yang membasahi pipiku
disaat tidur malamku
Bandung, 31 Agustus 1997
EPISODE OKTOBER
Prolog :
salahkah aku…
jika dalam tidur malamku
selalu berakhir dengan namamu
salahkah aku…
bila kutanam rinduku
untukmu
salahkah aku…
berkhayal merajut hari
bersamamu
Epilog :
salahkah aku…
bila asa itu telah ada
dan menghapus semua logika
tentang cinta
Bandung, 16 Oktober 1997
SELAMAT PAGI DUNIA
selamat pagi dunia!
akankah kau beri satu cerita
untuk hari ini
agar dapat kumulai pagi
Depan Gramedia Merdeka Bandung, 1 April 1998
J A K A R T A
panas…
debu dan Kali Ciliwung
pedagang asongan di trotoar
sesaknya
bis kota
oleh
pengamen
dan copet jalanan
sedang aku
tak bisa bermimpi
(catatan perjalanan)
Jakarta, 28 April 1998
SEGORES ASA
: RZ
bila masih ada waktu
kurela mengeja hari yang berganti
menebar benih-benih rindu
agar dapat kuwarnai pagi
bila detik terakhir belum usang
kuingin menerangi malammu
hingga pagi datang menjelang
dan embun mulai bercumbu
bila senja takkan berakhir
kupanjatkan satu asa yang hadir
dalam sgala angan yang ada
semoga pintumu slalu terbuka
Bandung, 13 Oktober 1998
K E R E S A H A N
-kado ultah-
ada sepi yang merajut malam
saat detik-detik mulai tenggelam
dan penantian tertinggal dalam kelam
ada pedih terukir
untuk satu asa yang hadir
dalam sebait doa terakhir
ada rindu menggores hati
menanti waktu yang kembali
agar dapat kueja dengan pasti
Bandung, 4 November 1998
JUM’AT SENJA
senja ini milikku
mungkin milik kita berdua
hingga minggu pagi berlalu
aku masih kangen padamu
Bandung, 5-7 Februari 1999
M A A F
: rief
kulihat satu-dua bintang di sana,
di langit tanpa batas
sinarnya yang indah menyentuh sudut mataku
kuhapus dengan ujung jari-jariku
jari-jari yang biasa menyentuh jiwamu,
bahkan juga ragamu
terselip doa berbingkai airmata
yang tiada henti berharap memaafkanmu
suatu hari nanti…
Bandung, 29 Agustus 1999
L E L A H
: rief
dua tahun dalam penjara kamarku
duduk bersama ribuan doa
‘sgala yang nampak seperti hanya mimpi
mimpi dalam sebuah lautan tidur
hingga habis satu gibran kutelanjangi
namun ada tanya yang tak pernah berakhir
seperti aku tak pernah tahu
sampai kapan airmata ini lelah menghampiri
Bandung, 3 September 1999
YANG KEDUA
kusisakan satu bunga
untuk kuberikan kembali
saat kita jumpa
suatu hari nanti
(Terima kasih yang tak terhingga untuk “sobat-sobatku”
dari Dunia Maya)
Bandung, 29 Januari 2000
L E L A K I
: Mas Indra
lelaki di tengah belantara
terpaku diam tanpa suara
desahmu menyayat, gugurkan dedaunan
di saat riuhnya hujan
lelaki tenggelam digelisahnya malam
berbalut keraguan dalam kelam
dukamu yang terus kau bawa
adalah masa lalu yang tak pernah tiada
lelaki terduduk membisu
menatap lewat celah ragu
mengurai asa satu persatu
‘tuk kembali mengukir waktu
Jakarta, 10 Maret 2002
PADA HATI
pada hati yang pernah ada
kueja namamu di atas gerimis senja
rindu, ada yang mencoba mengusik waktu
hingga penatku datang mencumbu
pada jiwa yang slalu merasa
terbakar gairah di ujung pesona
tanggalkan jubah penantian tanpa suara
yang ada hanyalah asa dan cinta
Green Ville, 12 Maret 2002
A K H I R
Sudah. Kita selesaikan saja semuanya di sini
tak ada cemburu, dan tak perlu sakit hati
lalu biarkan aku pergi
menjemput pagi yang kumau
Tak ada. Tak ada yang perlu kau sesalkan lagi
kata-kata yang pernah terucap
atau semua yang mungkin kukecap
tak ada lagi yang harus dipertahankan, di sini
Jakarta, 13 Maret 2002
J I K A
: j_70
jika aku hanya bisa mendengar suaramu
maka biar kunikmati suara itu
meski pedih, perih terasa
layaknya hujan membasuh luka
jika aku hanya bisa menyentuh bayanganmu
maka biar kunikmati bayangan itu
lalu aku akan melangkah pergi
membawa asa ke jantung mentari
jika aku hanya bisa meresakan cintamu
maka biar kunikmati cinta itu
sambil kusebut kembali namamu
yang mungkin tertinggal bersama debu
Jakarta, 14 Maret 2002
P R O L O G
(untuk AJM)
saat jumpa kembali dengannya
hanya satu yang kupinta
:cinta
Jakarta, 4 Mei 2002
L U K A
kembali ke jakarta
ada sebaris luka
yang menganga
tebarkan wangi duka
pada jendela jiwa
dan aku, tanpa raga
mati rasa
oleh cinta
Jakarta, 17 Mei 2002
D I N G I N
hujan…
mengusik kota Bandung
dihari senin
dan aku, tak berpayung
Bandung, Senin 8 Juli 2002
(tanpa judul)
: AJM
hujan mengetuk-ngetuk pintu
saat kau pergi malam itu
tinggalkan jutaan huruf yang membisu
tanpa dapat kueja pada waktu
duh, belahan jiwaku
bagai rembulan kau selimuti cahayaku
dalam kegelapan cintamu
Bandung, 11 Juli 2002
AKU INI SENJA
aku ini senja
yang kadang berwarna jingga
namun pernah pula merah menyala
aku ini senja
tempat berlabuh nelayan-nelayan tua
dari hingarnya pekikan samudera
aku ini senja
jangan panggil aku yang lain
karna senja tak meninggalkan sisa
Bandung, 14 Juli 2002
KEKASIH HATI
yang bersujud tanpa henti digulitanya malam
yang bertasbih dalam samudera waktu
yang melafal ayat-ayat cinta-Mu
yang menderas Asma-Mu satu persatu
yang slalu dekat pada maghfirah-Mu
adalah aku…
(kekasih-Mu)
Bandung, lewat tengah malam 2002
DI BAWAH PAYUNG HITAMMU
aku menatap pilu
menghapus luka yang semakin mengabut
di antara celah-celah sang maut
sepi…
ada yang tertinggal melukis mimpi
di bawah payung hitammu
Bandung, 19 juli 2002
MELIHATMU DI SEBERANG JALAN
ada jarak yang memisahkan
antara benci, dan ragu yang berserakan
tercecer di lembah penderitaan
yang tak bertuan
ada pedih yang membelenggu
saat kusibakkan kabut itu
kelopaknya jatuh satu demi satu
dalam pangkuanku
ada luka, nyaris tanpa suara
berbisik mengekalkan waktu
dalam lorong-lorong cinta
yang tertinggal di halaman berdebu
Bandung, 20 Juli 2002
JEJAK LANGKAHMU
jejak langkahmu yang tertinggal
saat nyala lampu di mercusuar
belum lagi berpendar
mengingatkanku pada kenangan yang lalu
indah, bagai kelopak mawar liar
di penghujung waktu
samar…
masih dapat kutangkap wangi tubuhmu
Bandung, 21 Juli 2002
SAAT OMBAK BERCERITA
saat ombak bercerita pada samudera
tentang birunya langit di ujung sana
aku terpasung dipelukan bumi
dihiasi pijaran mentari pagi
saat ombak bercerita pada dermaga tua
tentang kokohnya karang di tepi pantai
aku tak jua melangkah pergi
berharap waktu kan berhenti menyapa
saat ombak bercerita pada pepohonan kelapa
tentang ikan kecil yang tertangkap jala
aku pun masih berpijak di sini
menunggu perahumu yang mau kembali
Bandung, 21 Juli 2002
KUUKIR SENJA
: RHW
kuukir senja di hatimu
kuberi pelangi pada kerling senyummu
sambil kulukis pantai, ombak dan perahu
di matamu
kubungkus secarik sutra ungu
dan kusimpan diam-diam dalam mimpiku
Jakarta, 22 Agustus 2002
DI HALAMAN
daun-daun
disapa angin
gugur berserakan
menjelang hujan
Jakarta, 27 Agustus 2002
SAAT MALAM TIBA
bulan dibuai
dalam kidung anak pantai
kupu-kupu hitam tertidur
mendengkur
Jakarta, 27 Agustus 2002
DARI BALIK JENDELA
kutatap senja
di atas jakarta
dari balik jendela
ada semburat jingga
menghiasi angkasa raya
tidurkan barisan burung gereja
dalam mimpi-mimpi cinta
Jakarta, 28 Agustus 2002
TANGIS ADIKKU
: adikku, Melanie
membelah mega
resahkan teratai liar di tepi telaga
saat senja
Jakarta, 28 Agustus 2002
ANTARA DUA HATI
: SB
kubayangkan pagi itu
di atas mesin yang menderu
bersama, kita lalui jalan-jalan yang membisu
masih tercium wangi tubuhmu
menyatu seirama detak jantungku
entah mengapa ada rindu untukmu
bukan untuk kekasihku
Jakarta, 23 September 2002
H A M P A
: SB
tak ada lagi kata
tak kembali lagi senja
yang ada hanya serpihan luka
terbenam di dasar jiwa
dipenjara waktu
dilebur haru
bisu…
merajut ragu
Jakarta, 25 September 2002
EPISODE AKHIR
: SB
dan bunga pun berguguran
tinggalkan tangkainya nan suram
seperti aku melangkah perlahan
melepas cintamu pada sang malam
Jakarta, 27 September 2002
KARENA CINTAKU PADAMU
: BLP
karena cintaku padamu
membuat putih jadi abuabu
lebur pasti menjadi belenggu ragu
karena cintaku padamu
ukir mimpi menjadi jalinan asa
harap doa menjadi sebuah realita
karena cintaku padamu
tepikan logika dari nurani
tak ingin kupeduli…
Jakarta, 5 Oktober 2002
H A S R AT
: BLP
ingin kucium pipimu
di malam-malam panjang yang membisu
mencumbumu dengan untaian-untaian cinta
dalam kebun mawar impian kita
ingin kubelai ikal rambutmu
yang patuh dikuliti mentari
diteriknya belenggu siang hari
saat waktu tergulir dipenamu
ingin kurengkuh tubuhmu, wahai lelakiku
yang setia membasahi jiwa-jiwa kemarauku
memupuk ladang-ladang rinduku
tanpa pernah ragu
Jakarta, 18 Oktober 2002
NOVEMBER CINTA
mengingatmu di bulan November, merekah penuh gairah
mengeja namamu pada jarum hari yang entah
untuk ke berapa kali
karena cintamu yang terlanjur singgah
diam-diam dalam hati
Jakarta, 6 November 2002
TENTANG CINTA
lalu kau tertidur di sisi malam
sendiri, terdengar bisikan lirih di sela-sela bibirmu
yang semakin membiru
dalam gelap yang mulai temaram
tak pernah kau tanyakan lagi cinta itu
yang mungkin menjauh, mungkin pula membeku
biarlah malam ini berakhir, itu pikirmu
namun hatimu seakan terpuruk di situ
adakah cinta yang menjadikan dukamu harus terlahir?
Jakarta, 7 November 2002
TAK PERNAH
tak pernah kuhitung
berapa banyak tetesan rindu yang membasahi kalbu
dalam setiap pijaran nafasmu yang memburu
pada suatu petang yang lengang
tak pernah kueja
berapa banyak goresan cinta yang tergambar
di antara berkas-berkas senja
yang terserak bersama rumput liar
yang aku tahu, langkahmu slalu mengikuti
tak surut-surut, di setiap rindu yang menetes
tak bosan-bosan, di setiap cinta yang tergores
tanpa terhenti
Jakarta, 8 November 2002
KALIMAT CINTA (2)
dari hembusan angin malam
dari gemericiknya aliran air
kuterima kabar kerinduanmu
yang tak berbatas waktu
lalu izinkan aku menjawab bisikan cintamu
kelak anak-anakmu adalah anak-anakku jua
Bandung, 14 November 2002
ANAK-ANAKKU KELAK
anak-anakku kelak adalah anak-anak cinta
yang lahir dari rahim suci ibunda
sembilan purnama dalam belaian asmara
berkidung doa di setiap senja
dari bibir milik ayahanda
: kau
Bandung, 20 November 2002
D Z I K I R
sujud aku di kaki-Mu
bersimpuh dalam lautan doa
Laa ilaaha illallaah
memuja nama-Mu
pada dzikir-dzikir tanpa batas
Bandung, 16 Ramadhan 1423 H
KEMATIAN SENJA
senja telah mati…
dalam pekik sunyi nelayan pantai
terkurung bersama ribuan camar tua
yang terluka
senja telah mati…
dalam buaian ombak samudera
saat malam menjerat tepian dermaga
sebelum bulan menunaikan janji-janji
senja telah mati…
pukul lima tadi
maka tolong katakan padaku
akankah esok hari kutunggu
Bandung, 26 November 2002
MENCUMBU HUJAN
kucumbui hujan yang jatuh di pangkuan bumi
kurayu hingga tetes yang terakhir menari
di luar jendela kamarku
ingin kubiarkan rintiknya
menyirami sisa-sisa penatku
membasuh galau hatiku
sore ini…
Bandung, 27 November 2002
MENGUKIR MALAM
sendiri, mengukir malam
titipkan rindu pada bintang terkelam
tinggalkan jejak-jejak suci
mencari nada dalam kecapi hati
sendiri, mengukir malam
mendekap impian yang hampir tenggelam
sendiri…
mengukir malam…
merengkuh sepi…
Bandung, 27 November 2002
SEPOTONG JANJI
tak kan kubangunkan mentari
jika sinarnya kelak menyengat sayap-sayap cintamu
biarlah bulan berselimut ragu
dan malam berkawan gulita abadi
tak kan kurayu senja
agar datang di ujung petang
jika lindapnya membuat hatimu luka
dan berkasnya terserak dalam lembah lengang
tak kan lagi, kekasih…
tak kan kubiarkan jarum waktu mengoyak realita
merobek mimpi dan angan-angan milik kita
merenggut asa dari doa-doa yang ‘tlah terenda
Jakarta, 24 Desember 2002
P E R E M P U A N
perempuan mematri janji pada waktu
membasuh lautan luka di belantara hari
tinggalkan jejak-jejak tanpa hiasan dalam nadi
perempuan memahat kata di atas angkasa
taburi malam dengan lagu asmara
hingga terkubur setangkup derita
perempuan dalam legenda Qays dan Layla
ada tangis dan airmata
cinta…
Jakarta, 27 Desember 2002
C E M B U R U
ada yang berubah
saat hati ini mulai goyah
satu pijakan terlepas sudah
dalam harap yang terucap payah
Bandung, 15 Januari 2003
MENJELANG MALAM
rindu itu telah hilang, tenggelam dalam samudera waktu
haruskah kuragukan kesetiaan rembulan pada sang malam
sementara aku tersesat dalam ombak kegelapan
saat lampu-lampu di mercusuarmu nyaris dipadamkan
jangan lagi kasih…
jangan biarkan perahu kecilku berlabuh
pada dermaga-dermaga tanpa sauh
Bandung, 18 Januari 2003
KUINGIN JADI BUNGAMU
: pancoel
kuingin jadi bungamu
yang senantiasa harum menempa jiwamu
yang memberi bias pelangi pada jalinan hidupmu
ketika mentari bertambah uzur dalam hitungan waktu
kuingin jadi bungamu
sungguh…
jika indahnya mampu menembus gairah
dan lorong sunyi hatimu
Bandung, 1 Februari 2003
PEREMPUAN BERWAJAH SENJA
dan mentari pun sembunyi di balik jubahnya
saat kau berjalan menuju singgasana
ribuan peri kecil ikuti langkahmu
dengan tangan menari, mencumbu sang waktu
o, perempuan berwajah senja
hadirlah slalu dalam mimpi-mimpi dewa cinta
beri kami secawan anggur asmara
mabukkan jiwa kami dalam pesonamu yang menjerat
hingga malam kembali menjemput
mengubur habis semua asa yang sempat melekat
Bandung, 4 Februari 2003
T E G A R
: BLP
dalam dekapan harap
kusebut namamu di atas lukaku
pedih yang kukecap
tak juga meluluhkan airmatamu
Jakarta, 10-11 Maret 2003
P E R S E T U B U H A N
: pancoel
dan kucium bibirmu, di langit-langit kamar yang kian pekat
mencumbumu dalam lautan sepi
antara keheningan dan gelisahnya malam
kupacu gairah untuk memahat bayanganmu
Jakarta, 12 Maret 2003
P E R N I K A H A N
: sahabatku, Agus dan Dody
Kau dan Dia, pada sebuah ritual yang abadi
menyatu dalam raga dan jiwa sanubari
lebur mimpi menjadi ikatan cinta
untuk slalu setia menyelami suka, mengarungi duka
dan menjelma pada sebentuk janji nan sederhana
Pernikahan…
Jakarta, 14 Maret 2003
SELAMAT MALAM, CINTA
: BLP
kutunggu malam tiba ‘tuk sekedar menyapa dirimu
cinta…
sudahkah kau baringkan hatimu di sisi tempat tidurku?
mari…
kuantar kau ke taman surga mimpi
tentang rumah berpagar biru dan tiga bocah kecil nan lugu
simpanlah semua asa yang terjalin dalam senyumanmu
dan ceritakan padaku esok hari, saat rembulan berlalu
Jakarta, 25 Maret 2003
DI UJUNG SENJA
sempat kupotret bayanganmu
yang tergesa tinggalkan halaman berdebu
pada suatu senja kelabu
“Jangan kau catat alamatku,”
begitu selalu katamu
“Biarlah waktu yang menghitung rindu kita,
hingga penat menanti di ujung usia.”
aku pun mengangguk dalam keheningan aksara
Jakarta, 12 April 2003
K E R I N D U A N
: BLP
kerinduan ini, selalu setia menghampiri
tinggalkan jejak-jejak yang sulit kupahami
menebar ribuan pesona luka
di setiap mimpi yang kurenda
sungguh, kerinduan ini tak dapat kuredakan dengan kata-kata
Jakarta, 8 Mei 2003
TAK ADA PUISI HARI INI
: kado ultah buat seorang “B”
tak ada puisi hari ini
ketika kata-kata rindu tlah mati terkunci
ketika kalimat-kalimat cinta tlah usang dan basi
ketika bait-bait pujian tlah habis terkikis
tak ada, tak ada lagi yang dapat kutulis
maka ijinkan aku ‘tuk jadikanmu puisi
di hari ini…
Bandung, 18 Juni 2003
SESAL (PERSETUBUHAN INI…)
jika persetubuhan ini tak punya arti bagimu
campakkan saja aku di kolong ranjangmu
biar kupunguti sisa-sisa keringatmu yang masih hangat
yang tercecer di ujung penat
mungkin kelak dapat membuatmu teringat
pada malam yang kian pekat
Bandung, 27 Juni 2003
K E M A R A U
: buatmu
daun-daun luruh
matahari menjauh
airmata terjatuh
hatiku lelah dibungkus amarah
kutanyakan pada bebatuan yang terbelah
di atas tanah-tanah yang mulai memerah
adakah musim ‘kan mau mengalah…
pada tetes hujan pertama yang singgah
pada waktu yang tak kunjung lelah
sungguh…
kemaraumu membuatku gelisah
Bandung, 5 Agustus 2003
KAWINKAN AKU DENGAN KEMATIAN
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
kuundang kegelapan sebagai saksi
saat kata-kata terkubur dalam kesunyian
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
kupilih kamboja putih untuk maharku
dan tebaran mawar pengganti gaun pengantinku
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
karena hanya kekelaman yang rela menjadi kekasihku
yang setia menunggu sisa waktuku
Bandung, 20 Agustus 2003
DI DADAKU ADA BENCI
di dadaku ada benci
kuhembuskan lewat jeruji-jeruji hati
siang malam tanpa tepi
dari pijaran mata hingga birahi
di dadaku ada benci
yang menghitam dalam hitungan hari
meletup, bagai bunga api
membakar jiwa-jiwa yang sepi
di dadaku ada benci
yang seribu kali lebih mati
dari mentari yang kehilangan pagi
saat ini
Bandung, 5 Oktober 2003
WAKTU YANG SESAAT
telah kutulis jejak-jejak kita yang mulai terhapus
pada trotoar dan lampu-lampu di sepanjang jalan
juga pada hutan dan rel kereta di seberang kampus
yang pernah kita lalui kemarin
tak lupa kutinggalkan sepotong pesan
di atas ranjang, tempat kita biasa
melepas cerita tentang kemurahan dunia
pada hidup yang terus berjalan
mungkin aku yang terlalu lama bermimpi
atau waktu untuk kita yang hanya sesaat
lalu pada siapa ku harus mengeluh
sedang bayangmu semakin menjauh, pergi
Bandung, 14 Oktober 2003
NYANYIAN HUJAN
ini jiwa siapa?
yang terperangkap dalam samudera waktu
tenggelam dalam airmata haru
saat genderang kehidupan mulai ditabuh
hujan di luar sana semakin deras bernyanyi
tak ingin kubayangkan, saat kau ikrarkan janji itu padanya
dalam kesunyian yang tiada terhenti
seperti sunyi di hatiku yang tak juga mereda
ini jiwa siapa?
yang terkurung dalam ikatan sia-sia
Bandung, 14 Oktober 2003
DALAM DOA
bimbang kusebut namaMU
berjuta peluh dosa membanjir di sekujur tubuh
namun luka ini ‘tlah memaksaku untuk bersimpuh
tak kuasa, aku terpuruk di kakiMU
kulafadzkan asmaMu dalam doa
hingga mengering segala duka
Bandung, 17 Oktober 2003
SIANG ITU
seperti siang itu
dalam kebingungan yang nyaris memperkosa jiwamu
teriknya hari pun tak lagi kau hiraukan
semua yang terlewat jadi serba mungkin
itu katamu, tiga purnama yang lalu
saat kita baru saja merindu
dalam debur ombak yang kau singgahi
aku pun terhanyut dalam lautan birahi
ada pedih yang hadir tiba-tiba
mengingatmu tak lagi menyapa hariku
dan kegalauanmu tertinggal sia-sia
seperti siang itu
Bandung, 19 Oktober 2003
G E R I M I S
ini kali tak ada yang sempat
semuanya sibuk merapat
pada detik pertama yang hampir lewat
gerimis jatuh sangat cepat
sudut jalan terasa basah
tak ada lagi yang pejalan kaki yang singgah
burung gereja hanya bernyanyi di atap rumah
dan aku sembunyi di balik senyummu yang teduh
biarlah, kutinggalkan mentari sejenak
bertukar tempat pada gerimis yang mendadak
aku pun terjebak
dalam dingin : tak bergerak
Bandung, 4 November 2003
PADA SEBUAH KAPAL *)
di matamu tarian adalah surga
maka menarilah, wahai jiwa yang terluka
seperti kapal diterpa gulungan ombak
seperti ikan-ikan dibuai angin laut
menari…menarilah dalam samudera
mengalir bersama alunan cinta
ikuti gamelan jiwa yang meronta
lambaikan selendang panjang penuh impian
menari…teruslah menari dalam keremangan
hingga berakhir kedukaan hati
dan kapal pun menepi
Bandung, 5 November 2003
*) Seperti judul novel buah karya Nh. Dini
KEPADA YANG TERLUKA
isakkan tangismu di sela-sela cemara
yang daunnya melambai dalam keheningan
seakan berbisik mesra pada sang bulan
rahasiakan segores luka
tak tersisa murka, apalagi airmata
hanya belenggu waktu yang membiru
tertinggal di balik pintu
Bandung, 8 November 2003
ANTARA KAU DAN AKU
: untukmu
maafkan aku karena telah menjadi mimpi buruk di tidur malammu
maafkan aku karena telah mencuri sepotong hatimu sebagai penghias jendela rinduku
maafkan aku jika bayang-bayangku telah memporakporandakan seluruh taman hidupmu
maafkan aku karena telah lancang menyandingkan namamu di sisi namaku
maafkan aku, sungguh maafkan aku…
atas semua cerita di antara kau dan aku
Bandung, 12 November 2003
SEBUAH JANJI
: sahabatku, M
sunyi bagiku tak akan kembali
semua duka kubuang jauh ke dasar bumi
segala yang terucap adalah janji
entah bagaimana namun harus kutepati
kupilih kau sebagai saksi
agar hari ini dapat kujalani dengan pasti
Bandung, 17 November 2003
ADAM DAN HAWA (2)
: sahabatku, M
aku yang telah disakiti
tak ingin kembali meniti
biarlah Adam turun ke bumi
tinggalkan Hawa dalam kebimbangan seorang diri
mungkin lusa mereka dapat mengikat janji
meski cuma lewat mimpi
Bandung, 18 November 2003
BILA SAATNYA TIBA
bila saatnya tiba
kuingin menutup mata
mengenang tawamu yang penuh manja
dan semua yang berbau senja
bila saatnya tiba
jangan tinggalkan aku dalam gulita
ajari aku mengeja doa
agar dapat kuraih pintu surga
Bandung, 23 Ramadhan 1424 H
R I N D U
: sahabatku, M
kurindukan sapamu
ketika dering telepon tak lagi berbunyi
kuhitung hari yang berganti
bilakah kau kembali
‘tuk menyapa sepotong hati
yang tlah lama menanti
Bandung, 12 Desember 2003
D I L E M A
: SB
ingin kuisi lembaran itu
dengan cerita baru berpenakan rindu
yang kelak akan kubingkai pada hatimu
ah…kau masih saja terdiam dalam ragu
jejak-jejakmu pun tetap membisu
Bandung, 5 Januari 2004
DI STASIUN
di antara gerbong-gerbong yang terbujur kaku
kucari bayanganmu yang tertelan waktu
sepuluh hari yang lalu…
peluh membanjir satu persatu dalam geliat pagi
menit pun seakan berlari
saat kutemukan seraut wajah yang kunanti
dalam kerinduan yang selalu singgah
masih kusisakan ratapan gelisah
pada gerbong-gerbong yang tak pernah resah
Bandung, 6 Januari 2004
SEBUAH RUANG UNTUKMU
sebuah ruang untukmu tlah kusiapkan sejak dulu
kata-kata yang mengabu tetap kusimpan dalam lemari kalbu
kuncup bunga terakhir masih tertinggal di bilik waktu
sebuah ruang untukmu berteduh tlah kau singgahi
satu senja nan sempurna tlah kau nikmati
sebentuk ikatan atas nama kesetiaan tlah pula kita jalani
lalu mengapa kau masih juga melangkah pergi
sedang ragaku tetap terpaku di sini
Bandung, 9 Januari 2004
PEREMPUAN YANG MENANGIS
kau ingkari luka-luka di hatimu
berjuta senyum kau tebar lewat matamu
meski belati telah menusuk, merajam
semua tangis kau simpan dalam diam
kau sembunyikan duka-duka di dadamu
tak kau ceritakan isak derita yang membelenggu
segala ragu kau bunuh dalam dekapan
maka hanyutlah semua mimpi-mimpimu yang kesekian
duhai perempuan yang menangis
masih ingatkah kau pada kesetiaan senja yang tak habis-habis
Bandung, 10 Januari 2004
SURAT DARI SURGA
surga telah jatuh ke bumi
terhempas dalam samudera waktu
tak ada lagi kebahagiaan yang abadi
ketika malaikat-malaikat tinggalkan jubah penuh debu
dusta menjadi bunga kejujuran yang hakiki
harumnya mewangi di sepanjang hari
kelopaknya yang terakhir berguguran di relung hati
menggoda jiwa-jiwa yang berpaling dari nurani
surga telah jatuh ke bumi
tak lagi hampiri ranjang-ranjang pemimpi
selimuti malam dengan kegelapan yang tak pasti
hingga mentari bosan menanti
Bandung, 16 Januari 2004
LELAKI YANG MEMBACA HUJAN
di pagi buta yang ke sekian
lelaki tergesa membaca hujan
mengeja ayat-ayat kesetiaan
mengusung mimpi-mimpi penyair ke tepi pembaringan
di ujung senja yang terakhir
lelaki membaca hujan yang mengalir
mencari peta-peta luka yang sempat terukir
dari nafas kehidupan yang kian tersingkir
Bandung, 20 Januari 2004
SELALU ADA YANG TERSISA
: SB
selalu ada yang tersisa
meski pertemuan menjelma di antara kita
entah cinta atau sekedar rindu yang sia-sia
ketika perbincangan kehilangan kata
selalu ada yang tersisa
setelah perpisahan panjang tiba
bukan hanya kenangan belaka
atau impian yang mati rasa
selalu ada yang tersisa
dari perjalanan yang sama
biarlah kita simpan saja semua
tanpa mengharap apa-apa
Bandung, 23 Januari 2004
AKU TAK PERNAH BISA MELUPAKAN
aku tak pernah bisa melupakan
pagi yang penuh selaksa kenangan
kau dan aku di sepanjang jalan
berbagi denyut, bertukar impian
tak ada sesal yang datang kemudian
mungkin juga tak ‘kan ada penyelesaian
biar saja semuanya berpendar dalam angan
aku benar-benar tak pernah bisa melupakan
atau pun sekedar singkirkan
sebuah bayang yang kerap menggoda
dan itu milikmu semata
Bandung, 27 Januari 2004
PEREMPUAN YANG MENGHITUNG RINDU
: kepada matahari dalam lautan hidupku
perempuan menghitung rindu di dadanya
menasbihkan airmata yang tersisa
hingga tereja sebait kidung asmara
perempuan menghitung rindu satu-persatu
tergagap gugup di langit tak berpintu
mencoba tawarkan asa pada jiwa yang membisu
perempuan yang menghitung rindu itu aku
yang masih menyimpan sketsa dan wangi tubuhmu
dalam doa-doa sehitam batu
Bandung, 28 Januari 2004
AJARI AKU
ajari aku merindu
pada rintik-rintik hujan yang gugur dalam sahdu
menggetarkan lembah kesunyian sajakku
ajari aku mencinta
pada debur-debur ombak yang memecah di lepas samudera
memahat karang hatiku yang menjelma senja
ajari aku membenci
sebentuk bayang yang singgah di perjalanan hari
melafadzkan takbir gelisah, karena doaku tak lagi punya arti
Bandung, 31 Januari 2004
DI MANA KAU BERPIJAK
di mana kau tambatkan perahu-perahu kita
yang dulu kau kemudikan di pantai jiwaku
di mana kau semaikan bibit-bibit rindu
yang kerap kau taburkan pada kebun hatiku
di mana sesungguhnya batinmu berpijak
di tanah-tanah basah tempat kakimu menjejak
atau hanya di batas dermaga selintas lewat
Bandung, 31 Januari 2004
KUDEKAP ANGIN
kudekap angin yang menderu-deru di samping tidurmu
ketika bintang mengukir namanya pada jam waktu
hujan terbatuk-batuk di luar jendela
menawarkan gelisah mimpi pada senja
dan kau pun terbangun dari tidurmu
kudekap angin yang menderu
yang suaranya tiba-tiba menyeru kepadaku
bahwa kau tak lagi di sisiku
Bandung, 1 Februari 2004
KAU MENJELMA API
kau menjelma api
menghanguskan halaman-halaman sajakku
tinggalkan sepotong bara dan airmata haru
yang terbaca di bukit-bukit sunyi
kau menjelma api
matamu memerah, serupa rahwana
yang bergegas turun tahta ke dunia
kobarkan gelora amarah sejati
kau menjelma api
lalu mengabu pada jejak-jejak di lautan pagi
lalu membatu beku di merahnya cakrawala hari
Bandung, 1 Februari 2004
M E N D U A
telah kuhabiskan malam untuk mengeja namamu
telah kusinggahi rumah batinmu yang penuh debu
demi mambasuh segala luka di pematang waktu
lalu mengapa kau palingkan wajah itu
saat senjaku mengetuk bayang matamu
ah…kau tak lagi seperti dulu
yang setia menyisakan mimpimu di selimut tidurku
Jakarta, 1 Maret 2004
AKU INGIN PULANG
: bundaku
lautan doa yang kau kirim tadi malam
seperti rumput liar yang melambai kepadaku
aku ingin pulang, bunda…
Jakarta, 3 Maret 2004
P E N G O R B A N A N
- kado ultah buatmu -
cahaya yang kau titipkan di hatiku
tak pernah usang dibuai waktu
meski cinta dan asa yang kita punya
harus kutebus dengan airmata
Jakarta, 11 Maret 2004
CERITA DARI KHATULISTIWA
: pancoel
di ujung khatulistiwa dia menanti
dari sekedar jalinan aksara
hingga menjadi harapan yang sia-sia
masihkah airmata layak dipertaruhkan
demi sebuah janji kehormatan
dan dia, lelaki yang menanti di ujung khatulistiwa
tetap berdiri di atas kesetiaan
meski bumi tlah kehilangan cinta sejati
Jakarta, 17 Maret 2004
PEREMPUAN BERNAMA SENJA
adalah harapan yang tertinggal sia-sia dari perempuan bernama senja
adalah cinta yang terampas dari jemari perempuan bernama senja
adalah airmata yang tak jua mengering dari dada perempuan bernama senja
adalah aku, seorang perempuan bernama senja
yang harus belajar rela untuk kehilangan segala…
Jakarta, 22 Maret 2004
P E N A N T I A N
: sahabatku, M
ingin kuceritakan padamu
tentang hariku yang kini penuh warna
tentang sakitku yang tiba-tiba datang menyapa
dan tentang kerinduanku pada pelukan bunda tercinta
namun bayangmu seakan menghilang ditelan bumi
bumi yang sama, tempatku berpijak menanti hadirmu
saat ini…
Jakarta, 27 Maret 2004
IJINKAN AKU
: Lelakiku
aku tak pernah meminta belai tanganmu
atau kecup bibirmu
aku hanya ingin menghibur susahmu
menemani malam panjangmu
dan menjadi pelita bagi gelapmu
itu pun jika kau ijinkan aku…
Jakarta, 14 April 2003
RINDU INI
: Lelakiku
rindu ini tak tertahan lagi
membenturbentur di dinding kamar
mencari tempat untuk berlabuh
di kelokan hatimu
Jakarta, 17 April 2003
KUKIRIM CINTA
: Lelakiku
kukirim cinta malam ini
sepenuh hati, tanpa mengharap apa-apa
kukirim cinta malam ini
padamu, yang entah di ujung pulau sana
kukirim cinta malam ini
tolong, jangan kau kembalikan lagi
Jakarta, 17 April 2003
MALAM PENGANTIN
aku rindu malam pengantin kita
seprei satin dan kelambu sutra
taburan mawar melati di atas ranjang
dan kau, pengantinku…
tergagap malumalu
membisu di sudut kamar
Jakarta, 20 April 2003
KIDUNG CINTA UNTUK GADIS KECILKU
: Melanie
kudendangkan kidung malam
saat kerinduan akan dirimu kian menderas
kadang dapat kudengar jerit kanak-kanakmu
terlepas di ujung mega sana
samar…ingin kutangkap lengking tawamu meski hanya sekejap
sekedar memuaskan rinduku yang terkatung-katung
dalam samudera mimpi tak bertepi
untukmu, gadis kecilku
Jakarta, 4 Mei 2003
Berikut ini adalah beberapa sajak pilihan yang ditulis sejak tahun 1993 sampai dengan sekarang.
LUQMAN DAN TITAH SUCI
Anakku, meski sekecil biji sawi
Amalmu dibalik batu sembunyi
Diantara langit dan bumi ini
Balasan Allah datangnya pasti
Sungguh Allah Maha Halus meliputi
Lagi Maha Mengetahui
Anakku, tegakkanlah shalat
Dan titahlah beramal ma’ruf
Bersabarlah menanggung musibah
Sikap batin yang demikian
Titah suci yang diagungkan
(Pada sisi pandangan Tuhan)
jangan palingkan muka dari manusia
jangan berjalan pongah di atas dunia
Allah amat tidak menyukai
Para penyombong pembangga diri
Ayunkan langkah bersahaja
Lunakkan tutur kala menyapa
Seburuk-buruk ingar
Ingar-bingar suara himar
Kramat, 13 Mei 1993
ATAS NAMA CINTA
atas nama cinta kupersembahkan raga
atas nama cinta kurangkum bunga
atas nama cinta kupetikkan nada
atas nama cinta kubelajar rela
atas nama cinta kukuburkan cintamu
hari ini…
(akhir perjalananku)
Jakarta, 19 Maret 1997
B I A R
(happy b’day, rief!)
biar kutuliskan syair ini
agar aku tak lagi menangis
menatap kepergianmu
biar kubalut luka ini
bersama rasa cintaku
seiring hilangnya waktu
biar, biar semuanya berlalu
hingga tiba saatnya
aku harus berdiri kembali
menyambut sang pagi
Jakarta, 2 April 1997
AKU INGIN
aku ingin seperti karang
berdiri di tepi pantai
diterjang ombak, ditentang badai
aku ingin seperti samudera
yang bisa menyembunyikan ikan-ikan di dasarnya
yang bisa menenggelamkan kerang-kerang di kakinya
yang bisa melenyapkan buih-buih di sisinya
aku ingin, aku ingin memaafkanmu
seperti karang dengan pantainya
seperti samudera dengan ikan, kerang dan buihnya
tapi aku tak bisa…
Bandung, 23 Mei 1997
PUKUL EMPAT SORE
aku mengingatmu dalam diam
dalam setiap lekuk tubuhmu
dalam desahmu
gelak tawamu
dan detak jantungmu
kunikmati semua
dalam diamku
Guntur Sari Wetan, 13 Juli 1994
D I R I M U
masih selalu saja kuukir namamu
ketika senja turun perlahan
masih selalu kulukis bayangmu
ke dalam kanvas biruku
masih dan masih saja dirimu
yang membasahi pipiku
disaat tidur malamku
Bandung, 31 Agustus 1997
EPISODE OKTOBER
Prolog :
salahkah aku…
jika dalam tidur malamku
selalu berakhir dengan namamu
salahkah aku…
bila kutanam rinduku
untukmu
salahkah aku…
berkhayal merajut hari
bersamamu
Epilog :
salahkah aku…
bila asa itu telah ada
dan menghapus semua logika
tentang cinta
Bandung, 16 Oktober 1997
SELAMAT PAGI DUNIA
selamat pagi dunia!
akankah kau beri satu cerita
untuk hari ini
agar dapat kumulai pagi
Depan Gramedia Merdeka Bandung, 1 April 1998
J A K A R T A
panas…
debu dan Kali Ciliwung
pedagang asongan di trotoar
sesaknya
bis kota
oleh
pengamen
dan copet jalanan
sedang aku
tak bisa bermimpi
(catatan perjalanan)
Jakarta, 28 April 1998
SEGORES ASA
: RZ
bila masih ada waktu
kurela mengeja hari yang berganti
menebar benih-benih rindu
agar dapat kuwarnai pagi
bila detik terakhir belum usang
kuingin menerangi malammu
hingga pagi datang menjelang
dan embun mulai bercumbu
bila senja takkan berakhir
kupanjatkan satu asa yang hadir
dalam sgala angan yang ada
semoga pintumu slalu terbuka
Bandung, 13 Oktober 1998
K E R E S A H A N
-kado ultah-
ada sepi yang merajut malam
saat detik-detik mulai tenggelam
dan penantian tertinggal dalam kelam
ada pedih terukir
untuk satu asa yang hadir
dalam sebait doa terakhir
ada rindu menggores hati
menanti waktu yang kembali
agar dapat kueja dengan pasti
Bandung, 4 November 1998
JUM’AT SENJA
senja ini milikku
mungkin milik kita berdua
hingga minggu pagi berlalu
aku masih kangen padamu
Bandung, 5-7 Februari 1999
M A A F
: rief
kulihat satu-dua bintang di sana,
di langit tanpa batas
sinarnya yang indah menyentuh sudut mataku
kuhapus dengan ujung jari-jariku
jari-jari yang biasa menyentuh jiwamu,
bahkan juga ragamu
terselip doa berbingkai airmata
yang tiada henti berharap memaafkanmu
suatu hari nanti…
Bandung, 29 Agustus 1999
L E L A H
: rief
dua tahun dalam penjara kamarku
duduk bersama ribuan doa
‘sgala yang nampak seperti hanya mimpi
mimpi dalam sebuah lautan tidur
hingga habis satu gibran kutelanjangi
namun ada tanya yang tak pernah berakhir
seperti aku tak pernah tahu
sampai kapan airmata ini lelah menghampiri
Bandung, 3 September 1999
YANG KEDUA
kusisakan satu bunga
untuk kuberikan kembali
saat kita jumpa
suatu hari nanti
(Terima kasih yang tak terhingga untuk “sobat-sobatku”
dari Dunia Maya)
Bandung, 29 Januari 2000
L E L A K I
: Mas Indra
lelaki di tengah belantara
terpaku diam tanpa suara
desahmu menyayat, gugurkan dedaunan
di saat riuhnya hujan
lelaki tenggelam digelisahnya malam
berbalut keraguan dalam kelam
dukamu yang terus kau bawa
adalah masa lalu yang tak pernah tiada
lelaki terduduk membisu
menatap lewat celah ragu
mengurai asa satu persatu
‘tuk kembali mengukir waktu
Jakarta, 10 Maret 2002
PADA HATI
pada hati yang pernah ada
kueja namamu di atas gerimis senja
rindu, ada yang mencoba mengusik waktu
hingga penatku datang mencumbu
pada jiwa yang slalu merasa
terbakar gairah di ujung pesona
tanggalkan jubah penantian tanpa suara
yang ada hanyalah asa dan cinta
Green Ville, 12 Maret 2002
A K H I R
Sudah. Kita selesaikan saja semuanya di sini
tak ada cemburu, dan tak perlu sakit hati
lalu biarkan aku pergi
menjemput pagi yang kumau
Tak ada. Tak ada yang perlu kau sesalkan lagi
kata-kata yang pernah terucap
atau semua yang mungkin kukecap
tak ada lagi yang harus dipertahankan, di sini
Jakarta, 13 Maret 2002
J I K A
: j_70
jika aku hanya bisa mendengar suaramu
maka biar kunikmati suara itu
meski pedih, perih terasa
layaknya hujan membasuh luka
jika aku hanya bisa menyentuh bayanganmu
maka biar kunikmati bayangan itu
lalu aku akan melangkah pergi
membawa asa ke jantung mentari
jika aku hanya bisa meresakan cintamu
maka biar kunikmati cinta itu
sambil kusebut kembali namamu
yang mungkin tertinggal bersama debu
Jakarta, 14 Maret 2002
P R O L O G
(untuk AJM)
saat jumpa kembali dengannya
hanya satu yang kupinta
:cinta
Jakarta, 4 Mei 2002
L U K A
kembali ke jakarta
ada sebaris luka
yang menganga
tebarkan wangi duka
pada jendela jiwa
dan aku, tanpa raga
mati rasa
oleh cinta
Jakarta, 17 Mei 2002
D I N G I N
hujan…
mengusik kota Bandung
dihari senin
dan aku, tak berpayung
Bandung, Senin 8 Juli 2002
(tanpa judul)
: AJM
hujan mengetuk-ngetuk pintu
saat kau pergi malam itu
tinggalkan jutaan huruf yang membisu
tanpa dapat kueja pada waktu
duh, belahan jiwaku
bagai rembulan kau selimuti cahayaku
dalam kegelapan cintamu
Bandung, 11 Juli 2002
AKU INI SENJA
aku ini senja
yang kadang berwarna jingga
namun pernah pula merah menyala
aku ini senja
tempat berlabuh nelayan-nelayan tua
dari hingarnya pekikan samudera
aku ini senja
jangan panggil aku yang lain
karna senja tak meninggalkan sisa
Bandung, 14 Juli 2002
KEKASIH HATI
yang bersujud tanpa henti digulitanya malam
yang bertasbih dalam samudera waktu
yang melafal ayat-ayat cinta-Mu
yang menderas Asma-Mu satu persatu
yang slalu dekat pada maghfirah-Mu
adalah aku…
(kekasih-Mu)
Bandung, lewat tengah malam 2002
DI BAWAH PAYUNG HITAMMU
aku menatap pilu
menghapus luka yang semakin mengabut
di antara celah-celah sang maut
sepi…
ada yang tertinggal melukis mimpi
di bawah payung hitammu
Bandung, 19 juli 2002
MELIHATMU DI SEBERANG JALAN
ada jarak yang memisahkan
antara benci, dan ragu yang berserakan
tercecer di lembah penderitaan
yang tak bertuan
ada pedih yang membelenggu
saat kusibakkan kabut itu
kelopaknya jatuh satu demi satu
dalam pangkuanku
ada luka, nyaris tanpa suara
berbisik mengekalkan waktu
dalam lorong-lorong cinta
yang tertinggal di halaman berdebu
Bandung, 20 Juli 2002
JEJAK LANGKAHMU
jejak langkahmu yang tertinggal
saat nyala lampu di mercusuar
belum lagi berpendar
mengingatkanku pada kenangan yang lalu
indah, bagai kelopak mawar liar
di penghujung waktu
samar…
masih dapat kutangkap wangi tubuhmu
Bandung, 21 Juli 2002
SAAT OMBAK BERCERITA
saat ombak bercerita pada samudera
tentang birunya langit di ujung sana
aku terpasung dipelukan bumi
dihiasi pijaran mentari pagi
saat ombak bercerita pada dermaga tua
tentang kokohnya karang di tepi pantai
aku tak jua melangkah pergi
berharap waktu kan berhenti menyapa
saat ombak bercerita pada pepohonan kelapa
tentang ikan kecil yang tertangkap jala
aku pun masih berpijak di sini
menunggu perahumu yang mau kembali
Bandung, 21 Juli 2002
KUUKIR SENJA
: RHW
kuukir senja di hatimu
kuberi pelangi pada kerling senyummu
sambil kulukis pantai, ombak dan perahu
di matamu
kubungkus secarik sutra ungu
dan kusimpan diam-diam dalam mimpiku
Jakarta, 22 Agustus 2002
DI HALAMAN
daun-daun
disapa angin
gugur berserakan
menjelang hujan
Jakarta, 27 Agustus 2002
SAAT MALAM TIBA
bulan dibuai
dalam kidung anak pantai
kupu-kupu hitam tertidur
mendengkur
Jakarta, 27 Agustus 2002
DARI BALIK JENDELA
kutatap senja
di atas jakarta
dari balik jendela
ada semburat jingga
menghiasi angkasa raya
tidurkan barisan burung gereja
dalam mimpi-mimpi cinta
Jakarta, 28 Agustus 2002
TANGIS ADIKKU
: adikku, Melanie
membelah mega
resahkan teratai liar di tepi telaga
saat senja
Jakarta, 28 Agustus 2002
ANTARA DUA HATI
: SB
kubayangkan pagi itu
di atas mesin yang menderu
bersama, kita lalui jalan-jalan yang membisu
masih tercium wangi tubuhmu
menyatu seirama detak jantungku
entah mengapa ada rindu untukmu
bukan untuk kekasihku
Jakarta, 23 September 2002
H A M P A
: SB
tak ada lagi kata
tak kembali lagi senja
yang ada hanya serpihan luka
terbenam di dasar jiwa
dipenjara waktu
dilebur haru
bisu…
merajut ragu
Jakarta, 25 September 2002
EPISODE AKHIR
: SB
dan bunga pun berguguran
tinggalkan tangkainya nan suram
seperti aku melangkah perlahan
melepas cintamu pada sang malam
Jakarta, 27 September 2002
KARENA CINTAKU PADAMU
: BLP
karena cintaku padamu
membuat putih jadi abuabu
lebur pasti menjadi belenggu ragu
karena cintaku padamu
ukir mimpi menjadi jalinan asa
harap doa menjadi sebuah realita
karena cintaku padamu
tepikan logika dari nurani
tak ingin kupeduli…
Jakarta, 5 Oktober 2002
H A S R AT
: BLP
ingin kucium pipimu
di malam-malam panjang yang membisu
mencumbumu dengan untaian-untaian cinta
dalam kebun mawar impian kita
ingin kubelai ikal rambutmu
yang patuh dikuliti mentari
diteriknya belenggu siang hari
saat waktu tergulir dipenamu
ingin kurengkuh tubuhmu, wahai lelakiku
yang setia membasahi jiwa-jiwa kemarauku
memupuk ladang-ladang rinduku
tanpa pernah ragu
Jakarta, 18 Oktober 2002
NOVEMBER CINTA
mengingatmu di bulan November, merekah penuh gairah
mengeja namamu pada jarum hari yang entah
untuk ke berapa kali
karena cintamu yang terlanjur singgah
diam-diam dalam hati
Jakarta, 6 November 2002
TENTANG CINTA
lalu kau tertidur di sisi malam
sendiri, terdengar bisikan lirih di sela-sela bibirmu
yang semakin membiru
dalam gelap yang mulai temaram
tak pernah kau tanyakan lagi cinta itu
yang mungkin menjauh, mungkin pula membeku
biarlah malam ini berakhir, itu pikirmu
namun hatimu seakan terpuruk di situ
adakah cinta yang menjadikan dukamu harus terlahir?
Jakarta, 7 November 2002
TAK PERNAH
tak pernah kuhitung
berapa banyak tetesan rindu yang membasahi kalbu
dalam setiap pijaran nafasmu yang memburu
pada suatu petang yang lengang
tak pernah kueja
berapa banyak goresan cinta yang tergambar
di antara berkas-berkas senja
yang terserak bersama rumput liar
yang aku tahu, langkahmu slalu mengikuti
tak surut-surut, di setiap rindu yang menetes
tak bosan-bosan, di setiap cinta yang tergores
tanpa terhenti
Jakarta, 8 November 2002
KALIMAT CINTA (2)
dari hembusan angin malam
dari gemericiknya aliran air
kuterima kabar kerinduanmu
yang tak berbatas waktu
lalu izinkan aku menjawab bisikan cintamu
kelak anak-anakmu adalah anak-anakku jua
Bandung, 14 November 2002
ANAK-ANAKKU KELAK
anak-anakku kelak adalah anak-anak cinta
yang lahir dari rahim suci ibunda
sembilan purnama dalam belaian asmara
berkidung doa di setiap senja
dari bibir milik ayahanda
: kau
Bandung, 20 November 2002
D Z I K I R
sujud aku di kaki-Mu
bersimpuh dalam lautan doa
Laa ilaaha illallaah
memuja nama-Mu
pada dzikir-dzikir tanpa batas
Bandung, 16 Ramadhan 1423 H
KEMATIAN SENJA
senja telah mati…
dalam pekik sunyi nelayan pantai
terkurung bersama ribuan camar tua
yang terluka
senja telah mati…
dalam buaian ombak samudera
saat malam menjerat tepian dermaga
sebelum bulan menunaikan janji-janji
senja telah mati…
pukul lima tadi
maka tolong katakan padaku
akankah esok hari kutunggu
Bandung, 26 November 2002
MENCUMBU HUJAN
kucumbui hujan yang jatuh di pangkuan bumi
kurayu hingga tetes yang terakhir menari
di luar jendela kamarku
ingin kubiarkan rintiknya
menyirami sisa-sisa penatku
membasuh galau hatiku
sore ini…
Bandung, 27 November 2002
MENGUKIR MALAM
sendiri, mengukir malam
titipkan rindu pada bintang terkelam
tinggalkan jejak-jejak suci
mencari nada dalam kecapi hati
sendiri, mengukir malam
mendekap impian yang hampir tenggelam
sendiri…
mengukir malam…
merengkuh sepi…
Bandung, 27 November 2002
SEPOTONG JANJI
tak kan kubangunkan mentari
jika sinarnya kelak menyengat sayap-sayap cintamu
biarlah bulan berselimut ragu
dan malam berkawan gulita abadi
tak kan kurayu senja
agar datang di ujung petang
jika lindapnya membuat hatimu luka
dan berkasnya terserak dalam lembah lengang
tak kan lagi, kekasih…
tak kan kubiarkan jarum waktu mengoyak realita
merobek mimpi dan angan-angan milik kita
merenggut asa dari doa-doa yang ‘tlah terenda
Jakarta, 24 Desember 2002
P E R E M P U A N
perempuan mematri janji pada waktu
membasuh lautan luka di belantara hari
tinggalkan jejak-jejak tanpa hiasan dalam nadi
perempuan memahat kata di atas angkasa
taburi malam dengan lagu asmara
hingga terkubur setangkup derita
perempuan dalam legenda Qays dan Layla
ada tangis dan airmata
cinta…
Jakarta, 27 Desember 2002
C E M B U R U
ada yang berubah
saat hati ini mulai goyah
satu pijakan terlepas sudah
dalam harap yang terucap payah
Bandung, 15 Januari 2003
MENJELANG MALAM
rindu itu telah hilang, tenggelam dalam samudera waktu
haruskah kuragukan kesetiaan rembulan pada sang malam
sementara aku tersesat dalam ombak kegelapan
saat lampu-lampu di mercusuarmu nyaris dipadamkan
jangan lagi kasih…
jangan biarkan perahu kecilku berlabuh
pada dermaga-dermaga tanpa sauh
Bandung, 18 Januari 2003
KUINGIN JADI BUNGAMU
: pancoel
kuingin jadi bungamu
yang senantiasa harum menempa jiwamu
yang memberi bias pelangi pada jalinan hidupmu
ketika mentari bertambah uzur dalam hitungan waktu
kuingin jadi bungamu
sungguh…
jika indahnya mampu menembus gairah
dan lorong sunyi hatimu
Bandung, 1 Februari 2003
PEREMPUAN BERWAJAH SENJA
dan mentari pun sembunyi di balik jubahnya
saat kau berjalan menuju singgasana
ribuan peri kecil ikuti langkahmu
dengan tangan menari, mencumbu sang waktu
o, perempuan berwajah senja
hadirlah slalu dalam mimpi-mimpi dewa cinta
beri kami secawan anggur asmara
mabukkan jiwa kami dalam pesonamu yang menjerat
hingga malam kembali menjemput
mengubur habis semua asa yang sempat melekat
Bandung, 4 Februari 2003
T E G A R
: BLP
dalam dekapan harap
kusebut namamu di atas lukaku
pedih yang kukecap
tak juga meluluhkan airmatamu
Jakarta, 10-11 Maret 2003
P E R S E T U B U H A N
: pancoel
dan kucium bibirmu, di langit-langit kamar yang kian pekat
mencumbumu dalam lautan sepi
antara keheningan dan gelisahnya malam
kupacu gairah untuk memahat bayanganmu
Jakarta, 12 Maret 2003
P E R N I K A H A N
: sahabatku, Agus dan Dody
Kau dan Dia, pada sebuah ritual yang abadi
menyatu dalam raga dan jiwa sanubari
lebur mimpi menjadi ikatan cinta
untuk slalu setia menyelami suka, mengarungi duka
dan menjelma pada sebentuk janji nan sederhana
Pernikahan…
Jakarta, 14 Maret 2003
SELAMAT MALAM, CINTA
: BLP
kutunggu malam tiba ‘tuk sekedar menyapa dirimu
cinta…
sudahkah kau baringkan hatimu di sisi tempat tidurku?
mari…
kuantar kau ke taman surga mimpi
tentang rumah berpagar biru dan tiga bocah kecil nan lugu
simpanlah semua asa yang terjalin dalam senyumanmu
dan ceritakan padaku esok hari, saat rembulan berlalu
Jakarta, 25 Maret 2003
DI UJUNG SENJA
sempat kupotret bayanganmu
yang tergesa tinggalkan halaman berdebu
pada suatu senja kelabu
“Jangan kau catat alamatku,”
begitu selalu katamu
“Biarlah waktu yang menghitung rindu kita,
hingga penat menanti di ujung usia.”
aku pun mengangguk dalam keheningan aksara
Jakarta, 12 April 2003
K E R I N D U A N
: BLP
kerinduan ini, selalu setia menghampiri
tinggalkan jejak-jejak yang sulit kupahami
menebar ribuan pesona luka
di setiap mimpi yang kurenda
sungguh, kerinduan ini tak dapat kuredakan dengan kata-kata
Jakarta, 8 Mei 2003
TAK ADA PUISI HARI INI
: kado ultah buat seorang “B”
tak ada puisi hari ini
ketika kata-kata rindu tlah mati terkunci
ketika kalimat-kalimat cinta tlah usang dan basi
ketika bait-bait pujian tlah habis terkikis
tak ada, tak ada lagi yang dapat kutulis
maka ijinkan aku ‘tuk jadikanmu puisi
di hari ini…
Bandung, 18 Juni 2003
SESAL (PERSETUBUHAN INI…)
jika persetubuhan ini tak punya arti bagimu
campakkan saja aku di kolong ranjangmu
biar kupunguti sisa-sisa keringatmu yang masih hangat
yang tercecer di ujung penat
mungkin kelak dapat membuatmu teringat
pada malam yang kian pekat
Bandung, 27 Juni 2003
K E M A R A U
: buatmu
daun-daun luruh
matahari menjauh
airmata terjatuh
hatiku lelah dibungkus amarah
kutanyakan pada bebatuan yang terbelah
di atas tanah-tanah yang mulai memerah
adakah musim ‘kan mau mengalah…
pada tetes hujan pertama yang singgah
pada waktu yang tak kunjung lelah
sungguh…
kemaraumu membuatku gelisah
Bandung, 5 Agustus 2003
KAWINKAN AKU DENGAN KEMATIAN
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
kuundang kegelapan sebagai saksi
saat kata-kata terkubur dalam kesunyian
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
kupilih kamboja putih untuk maharku
dan tebaran mawar pengganti gaun pengantinku
Bunda, kawinkan aku dengan kematian
karena hanya kekelaman yang rela menjadi kekasihku
yang setia menunggu sisa waktuku
Bandung, 20 Agustus 2003
DI DADAKU ADA BENCI
di dadaku ada benci
kuhembuskan lewat jeruji-jeruji hati
siang malam tanpa tepi
dari pijaran mata hingga birahi
di dadaku ada benci
yang menghitam dalam hitungan hari
meletup, bagai bunga api
membakar jiwa-jiwa yang sepi
di dadaku ada benci
yang seribu kali lebih mati
dari mentari yang kehilangan pagi
saat ini
Bandung, 5 Oktober 2003
WAKTU YANG SESAAT
telah kutulis jejak-jejak kita yang mulai terhapus
pada trotoar dan lampu-lampu di sepanjang jalan
juga pada hutan dan rel kereta di seberang kampus
yang pernah kita lalui kemarin
tak lupa kutinggalkan sepotong pesan
di atas ranjang, tempat kita biasa
melepas cerita tentang kemurahan dunia
pada hidup yang terus berjalan
mungkin aku yang terlalu lama bermimpi
atau waktu untuk kita yang hanya sesaat
lalu pada siapa ku harus mengeluh
sedang bayangmu semakin menjauh, pergi
Bandung, 14 Oktober 2003
NYANYIAN HUJAN
ini jiwa siapa?
yang terperangkap dalam samudera waktu
tenggelam dalam airmata haru
saat genderang kehidupan mulai ditabuh
hujan di luar sana semakin deras bernyanyi
tak ingin kubayangkan, saat kau ikrarkan janji itu padanya
dalam kesunyian yang tiada terhenti
seperti sunyi di hatiku yang tak juga mereda
ini jiwa siapa?
yang terkurung dalam ikatan sia-sia
Bandung, 14 Oktober 2003
DALAM DOA
bimbang kusebut namaMU
berjuta peluh dosa membanjir di sekujur tubuh
namun luka ini ‘tlah memaksaku untuk bersimpuh
tak kuasa, aku terpuruk di kakiMU
kulafadzkan asmaMu dalam doa
hingga mengering segala duka
Bandung, 17 Oktober 2003
SIANG ITU
seperti siang itu
dalam kebingungan yang nyaris memperkosa jiwamu
teriknya hari pun tak lagi kau hiraukan
semua yang terlewat jadi serba mungkin
itu katamu, tiga purnama yang lalu
saat kita baru saja merindu
dalam debur ombak yang kau singgahi
aku pun terhanyut dalam lautan birahi
ada pedih yang hadir tiba-tiba
mengingatmu tak lagi menyapa hariku
dan kegalauanmu tertinggal sia-sia
seperti siang itu
Bandung, 19 Oktober 2003
G E R I M I S
ini kali tak ada yang sempat
semuanya sibuk merapat
pada detik pertama yang hampir lewat
gerimis jatuh sangat cepat
sudut jalan terasa basah
tak ada lagi yang pejalan kaki yang singgah
burung gereja hanya bernyanyi di atap rumah
dan aku sembunyi di balik senyummu yang teduh
biarlah, kutinggalkan mentari sejenak
bertukar tempat pada gerimis yang mendadak
aku pun terjebak
dalam dingin : tak bergerak
Bandung, 4 November 2003
PADA SEBUAH KAPAL *)
di matamu tarian adalah surga
maka menarilah, wahai jiwa yang terluka
seperti kapal diterpa gulungan ombak
seperti ikan-ikan dibuai angin laut
menari…menarilah dalam samudera
mengalir bersama alunan cinta
ikuti gamelan jiwa yang meronta
lambaikan selendang panjang penuh impian
menari…teruslah menari dalam keremangan
hingga berakhir kedukaan hati
dan kapal pun menepi
Bandung, 5 November 2003
*) Seperti judul novel buah karya Nh. Dini
KEPADA YANG TERLUKA
isakkan tangismu di sela-sela cemara
yang daunnya melambai dalam keheningan
seakan berbisik mesra pada sang bulan
rahasiakan segores luka
tak tersisa murka, apalagi airmata
hanya belenggu waktu yang membiru
tertinggal di balik pintu
Bandung, 8 November 2003
ANTARA KAU DAN AKU
: untukmu
maafkan aku karena telah menjadi mimpi buruk di tidur malammu
maafkan aku karena telah mencuri sepotong hatimu sebagai penghias jendela rinduku
maafkan aku jika bayang-bayangku telah memporakporandakan seluruh taman hidupmu
maafkan aku karena telah lancang menyandingkan namamu di sisi namaku
maafkan aku, sungguh maafkan aku…
atas semua cerita di antara kau dan aku
Bandung, 12 November 2003
SEBUAH JANJI
: sahabatku, M
sunyi bagiku tak akan kembali
semua duka kubuang jauh ke dasar bumi
segala yang terucap adalah janji
entah bagaimana namun harus kutepati
kupilih kau sebagai saksi
agar hari ini dapat kujalani dengan pasti
Bandung, 17 November 2003
ADAM DAN HAWA (2)
: sahabatku, M
aku yang telah disakiti
tak ingin kembali meniti
biarlah Adam turun ke bumi
tinggalkan Hawa dalam kebimbangan seorang diri
mungkin lusa mereka dapat mengikat janji
meski cuma lewat mimpi
Bandung, 18 November 2003
BILA SAATNYA TIBA
bila saatnya tiba
kuingin menutup mata
mengenang tawamu yang penuh manja
dan semua yang berbau senja
bila saatnya tiba
jangan tinggalkan aku dalam gulita
ajari aku mengeja doa
agar dapat kuraih pintu surga
Bandung, 23 Ramadhan 1424 H
R I N D U
: sahabatku, M
kurindukan sapamu
ketika dering telepon tak lagi berbunyi
kuhitung hari yang berganti
bilakah kau kembali
‘tuk menyapa sepotong hati
yang tlah lama menanti
Bandung, 12 Desember 2003
D I L E M A
: SB
ingin kuisi lembaran itu
dengan cerita baru berpenakan rindu
yang kelak akan kubingkai pada hatimu
ah…kau masih saja terdiam dalam ragu
jejak-jejakmu pun tetap membisu
Bandung, 5 Januari 2004
DI STASIUN
di antara gerbong-gerbong yang terbujur kaku
kucari bayanganmu yang tertelan waktu
sepuluh hari yang lalu…
peluh membanjir satu persatu dalam geliat pagi
menit pun seakan berlari
saat kutemukan seraut wajah yang kunanti
dalam kerinduan yang selalu singgah
masih kusisakan ratapan gelisah
pada gerbong-gerbong yang tak pernah resah
Bandung, 6 Januari 2004
SEBUAH RUANG UNTUKMU
sebuah ruang untukmu tlah kusiapkan sejak dulu
kata-kata yang mengabu tetap kusimpan dalam lemari kalbu
kuncup bunga terakhir masih tertinggal di bilik waktu
sebuah ruang untukmu berteduh tlah kau singgahi
satu senja nan sempurna tlah kau nikmati
sebentuk ikatan atas nama kesetiaan tlah pula kita jalani
lalu mengapa kau masih juga melangkah pergi
sedang ragaku tetap terpaku di sini
Bandung, 9 Januari 2004
PEREMPUAN YANG MENANGIS
kau ingkari luka-luka di hatimu
berjuta senyum kau tebar lewat matamu
meski belati telah menusuk, merajam
semua tangis kau simpan dalam diam
kau sembunyikan duka-duka di dadamu
tak kau ceritakan isak derita yang membelenggu
segala ragu kau bunuh dalam dekapan
maka hanyutlah semua mimpi-mimpimu yang kesekian
duhai perempuan yang menangis
masih ingatkah kau pada kesetiaan senja yang tak habis-habis
Bandung, 10 Januari 2004
SURAT DARI SURGA
surga telah jatuh ke bumi
terhempas dalam samudera waktu
tak ada lagi kebahagiaan yang abadi
ketika malaikat-malaikat tinggalkan jubah penuh debu
dusta menjadi bunga kejujuran yang hakiki
harumnya mewangi di sepanjang hari
kelopaknya yang terakhir berguguran di relung hati
menggoda jiwa-jiwa yang berpaling dari nurani
surga telah jatuh ke bumi
tak lagi hampiri ranjang-ranjang pemimpi
selimuti malam dengan kegelapan yang tak pasti
hingga mentari bosan menanti
Bandung, 16 Januari 2004
LELAKI YANG MEMBACA HUJAN
di pagi buta yang ke sekian
lelaki tergesa membaca hujan
mengeja ayat-ayat kesetiaan
mengusung mimpi-mimpi penyair ke tepi pembaringan
di ujung senja yang terakhir
lelaki membaca hujan yang mengalir
mencari peta-peta luka yang sempat terukir
dari nafas kehidupan yang kian tersingkir
Bandung, 20 Januari 2004
SELALU ADA YANG TERSISA
: SB
selalu ada yang tersisa
meski pertemuan menjelma di antara kita
entah cinta atau sekedar rindu yang sia-sia
ketika perbincangan kehilangan kata
selalu ada yang tersisa
setelah perpisahan panjang tiba
bukan hanya kenangan belaka
atau impian yang mati rasa
selalu ada yang tersisa
dari perjalanan yang sama
biarlah kita simpan saja semua
tanpa mengharap apa-apa
Bandung, 23 Januari 2004
AKU TAK PERNAH BISA MELUPAKAN
aku tak pernah bisa melupakan
pagi yang penuh selaksa kenangan
kau dan aku di sepanjang jalan
berbagi denyut, bertukar impian
tak ada sesal yang datang kemudian
mungkin juga tak ‘kan ada penyelesaian
biar saja semuanya berpendar dalam angan
aku benar-benar tak pernah bisa melupakan
atau pun sekedar singkirkan
sebuah bayang yang kerap menggoda
dan itu milikmu semata
Bandung, 27 Januari 2004
PEREMPUAN YANG MENGHITUNG RINDU
: kepada matahari dalam lautan hidupku
perempuan menghitung rindu di dadanya
menasbihkan airmata yang tersisa
hingga tereja sebait kidung asmara
perempuan menghitung rindu satu-persatu
tergagap gugup di langit tak berpintu
mencoba tawarkan asa pada jiwa yang membisu
perempuan yang menghitung rindu itu aku
yang masih menyimpan sketsa dan wangi tubuhmu
dalam doa-doa sehitam batu
Bandung, 28 Januari 2004
AJARI AKU
ajari aku merindu
pada rintik-rintik hujan yang gugur dalam sahdu
menggetarkan lembah kesunyian sajakku
ajari aku mencinta
pada debur-debur ombak yang memecah di lepas samudera
memahat karang hatiku yang menjelma senja
ajari aku membenci
sebentuk bayang yang singgah di perjalanan hari
melafadzkan takbir gelisah, karena doaku tak lagi punya arti
Bandung, 31 Januari 2004
DI MANA KAU BERPIJAK
di mana kau tambatkan perahu-perahu kita
yang dulu kau kemudikan di pantai jiwaku
di mana kau semaikan bibit-bibit rindu
yang kerap kau taburkan pada kebun hatiku
di mana sesungguhnya batinmu berpijak
di tanah-tanah basah tempat kakimu menjejak
atau hanya di batas dermaga selintas lewat
Bandung, 31 Januari 2004
KUDEKAP ANGIN
kudekap angin yang menderu-deru di samping tidurmu
ketika bintang mengukir namanya pada jam waktu
hujan terbatuk-batuk di luar jendela
menawarkan gelisah mimpi pada senja
dan kau pun terbangun dari tidurmu
kudekap angin yang menderu
yang suaranya tiba-tiba menyeru kepadaku
bahwa kau tak lagi di sisiku
Bandung, 1 Februari 2004
KAU MENJELMA API
kau menjelma api
menghanguskan halaman-halaman sajakku
tinggalkan sepotong bara dan airmata haru
yang terbaca di bukit-bukit sunyi
kau menjelma api
matamu memerah, serupa rahwana
yang bergegas turun tahta ke dunia
kobarkan gelora amarah sejati
kau menjelma api
lalu mengabu pada jejak-jejak di lautan pagi
lalu membatu beku di merahnya cakrawala hari
Bandung, 1 Februari 2004
M E N D U A
telah kuhabiskan malam untuk mengeja namamu
telah kusinggahi rumah batinmu yang penuh debu
demi mambasuh segala luka di pematang waktu
lalu mengapa kau palingkan wajah itu
saat senjaku mengetuk bayang matamu
ah…kau tak lagi seperti dulu
yang setia menyisakan mimpimu di selimut tidurku
Jakarta, 1 Maret 2004
AKU INGIN PULANG
: bundaku
lautan doa yang kau kirim tadi malam
seperti rumput liar yang melambai kepadaku
aku ingin pulang, bunda…
Jakarta, 3 Maret 2004
P E N G O R B A N A N
- kado ultah buatmu -
cahaya yang kau titipkan di hatiku
tak pernah usang dibuai waktu
meski cinta dan asa yang kita punya
harus kutebus dengan airmata
Jakarta, 11 Maret 2004
CERITA DARI KHATULISTIWA
: pancoel
di ujung khatulistiwa dia menanti
dari sekedar jalinan aksara
hingga menjadi harapan yang sia-sia
masihkah airmata layak dipertaruhkan
demi sebuah janji kehormatan
dan dia, lelaki yang menanti di ujung khatulistiwa
tetap berdiri di atas kesetiaan
meski bumi tlah kehilangan cinta sejati
Jakarta, 17 Maret 2004
PEREMPUAN BERNAMA SENJA
adalah harapan yang tertinggal sia-sia dari perempuan bernama senja
adalah cinta yang terampas dari jemari perempuan bernama senja
adalah airmata yang tak jua mengering dari dada perempuan bernama senja
adalah aku, seorang perempuan bernama senja
yang harus belajar rela untuk kehilangan segala…
Jakarta, 22 Maret 2004
P E N A N T I A N
: sahabatku, M
ingin kuceritakan padamu
tentang hariku yang kini penuh warna
tentang sakitku yang tiba-tiba datang menyapa
dan tentang kerinduanku pada pelukan bunda tercinta
namun bayangmu seakan menghilang ditelan bumi
bumi yang sama, tempatku berpijak menanti hadirmu
saat ini…
Jakarta, 27 Maret 2004
IJINKAN AKU
: Lelakiku
aku tak pernah meminta belai tanganmu
atau kecup bibirmu
aku hanya ingin menghibur susahmu
menemani malam panjangmu
dan menjadi pelita bagi gelapmu
itu pun jika kau ijinkan aku…
Jakarta, 14 April 2003
RINDU INI
: Lelakiku
rindu ini tak tertahan lagi
membenturbentur di dinding kamar
mencari tempat untuk berlabuh
di kelokan hatimu
Jakarta, 17 April 2003
KUKIRIM CINTA
: Lelakiku
kukirim cinta malam ini
sepenuh hati, tanpa mengharap apa-apa
kukirim cinta malam ini
padamu, yang entah di ujung pulau sana
kukirim cinta malam ini
tolong, jangan kau kembalikan lagi
Jakarta, 17 April 2003
MALAM PENGANTIN
aku rindu malam pengantin kita
seprei satin dan kelambu sutra
taburan mawar melati di atas ranjang
dan kau, pengantinku…
tergagap malumalu
membisu di sudut kamar
Jakarta, 20 April 2003
KIDUNG CINTA UNTUK GADIS KECILKU
: Melanie
kudendangkan kidung malam
saat kerinduan akan dirimu kian menderas
kadang dapat kudengar jerit kanak-kanakmu
terlepas di ujung mega sana
samar…ingin kutangkap lengking tawamu meski hanya sekejap
sekedar memuaskan rinduku yang terkatung-katung
dalam samudera mimpi tak bertepi
untukmu, gadis kecilku
Jakarta, 4 Mei 2003